Kaleidoskop 2016: Lima Bencana Besar di Indonesia - Kompas.com
Sabtu, 20 April 2024

Kaleidoskop 2016

Kaleidoskop 2016

Simak rangkuman peristiwa, informasi, dan ulasan topik hangat yang terjadi selama tahun 2016..

Kaleidoskop 2016: Lima Bencana Besar di Indonesia

Rabu, 14 Desember 2016 | 06:29 WIB
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Warga melintasi bangunan pasar Meureudu yang roboh akibat bencana gempa di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie jaya, Aceh, Kamis, (8/12/2016). Sebagian korban sudah teridentifikasi dan sebagian lagi masih dalam proses pendataan serta korban luka sendiri berjumlah 128 orang luka berat, dan 489 orang luka ringan, 86 unit rumah, 105 ruko, 13 unit masjid rusak berat.

KOMPAS.com – Indonesia mencatat rekor tertinggi kejadian bencana alam pada 2016. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, hingga November tahun ini telah terjadi 1.985 bencana di Tanah Air.

Jumlah tersebut dua kali lipat dibandingkan tahun 2007, yang sebanyak 816 bencana. Setahun berikutnya, BNPB mencatat ada 1.073 bencana dan bertambah lagi menjadi 1.246 bencana pada 2009. Jumlah itu terus meningkat menjadi 1.633 bencana (2010), 1.633 (2011), 1.811 (2012), 1.674 (2013), 1.967 (2014), dan 1.677 (2015).

"Jumlah kejadian bencana (2016) ini adalah rekor tertinggi yang pernah terjadi sejak 10 tahun terakhir," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers, Minggu (13/11/2016).

Sutopo mengatakan, terdapat delapan jenis bencana yang paling sering terjadi di Indonesia, yakni banjir, puting beliung, longsor, kebakaran hutan dan lahan, kombinasi banjir dan longsor, gelombang pasang dan abrasi, gempa bumi, serta erupsi gunung berapi.

Berikut lima kejadian bencana alam terbesar yang dicatat oleh Kompas.com.

1. Longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah

Longsor di Kabupaten Banjarnegara tidak hanya terjadi sekali, tetapi tiga kali berturut-turut. Longsor pertama melanda Desa Clapar, Kecamatan Madukara, pada Kamis (24/3/2016) pukul 19.00 WIB dan disusul pada Jumat (25/3/2016) pukul 01.30 WIB disusul longsor ketiga pada 06.00 WIB.

Longsor terjadi pada area seluas lima hektar tanah yang bergerak sejauh 1,2 kilometer. Longsoran merayap (soil creep) itu bergerak secara perlahan-lahan sehingga masyarakat dapat mengantisipasi dan melakukan evakuasi.

Terhitung sembilan rumah rusak berat, tiga rumah rusak sedang, dua rumah rusak ringan, dan 29 rumah terancam longsor susulan. Sebanyak 158 jiwa warga RT 3-5 di RW 01 mengungsi ke SD Negeri 2 Clapar, Madukara.

Longsor kedua terjadi di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Sabtu (18/6/2016). Sebuah bukit setinggi sekitar 100 meter longsor dan menimpa lima rumah sehingga rata dengan tanah.

Akibat bencana tersebut, enam warga Dukuh Gumelem dan Wanarata tertimbun longsor. Tiga orang ditemukan tewas di Dukuh Gumelem pada Sabtu malam dalam rentang waktu pukul 21.15 WIB hingga 21.33 WIB. Adapun tiga korban lainnya di RW 11 Dukuh Wanarata, Desa Gumelem.

(Baca juga 158 Orang Mengungsi akibat Longsor di Banjarnegara)

Material longsor menutup akses jalan di Desa Wanoharjo, Kecamatan Rowokele, dan Desa Sampang, Kecamatan Sempor, Kebumen.

Adapun longsor ketiga terjadi di Dusun Tambak Sari, Desa Sidengok, Kecamatan Peawaran, Banjarnegara, Minggu (25/9/2016) pukul 07.00 WIB. Longsoran tanah tersebut menimpa rumah milik Sugianto (570.

Kejadian longsor di Dusun Tambak Sari dipicu hujan deras yang terjadi sejak Sabtu (24/9/2016) siang hingga malam hari. Akibat peristiwa tersebut, satu korban bernama Nurhaidin (21) dinyatakan tewas.

BPBD BANJARNEGARA Longsor di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, sejak Kamis (24/3/2016) merusak bangunan.

Page:

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kontributor Tasikmalaya, Irwan Nugraha
Editor : Laksono Hari Wiwoho