Butet Kartaredjasa: Sarekat Ngobong Kalori

Kamis, 23 Maret 2017 | 16:00 WIB

TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Seniman Butet Kertaredjasa menarasikan buku audio Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Jumat (7/3/2014). Peluncuran buku audio yang didukung Djarum Apresiasi Budaya tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan seni lengger oleh Ronggeng Sekar Wigati asal Banyumas.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com -- Untuk menjaga kesehatan, dokter menganjurkan seniman serba bisa Butet Kartaredjasa jalan kaki minimal 30 menit per hari.

"Tapi kalau cuma 30 menit, keringat belum membanjir. Maka, saya bikin 60 sampai 90 menit, 5 sampai 7 kilometer, baru keringat mengucur," katanya di Yogyakarta, Minggu (19/3/2017), saat mengisahkan kebiasaan jalan kaki selama empat bulan terakhir.

Dasar Butet memang banyak gaul, jalan kaki yang semula hanya dia sendirian, ditemani istrinya, Ruli, kini membengkak menjadi kelompok cukup besar.

"Kelompok ini saya beri nama Sarekat Ngobong Kalori. Biar sangar." Kalau diindonesiakan, artinya perkumpulan pembakar kalori.

Anggotanya, seperti pada jalan kaki Minggu itu, sudah ada 26 orang.

"Akhirnya bukan hanya teman seniman, tapi para follower di Facebook, PNS, pensiunan, orang pajak, ibu rumah tangga, desainer fashion, kolektor, pastor, dosen, dan lainnya."

Butet berharap suatu kali kegiatan itu bisa ramai-ramai diikuti sampai 100 orang. Pasti seru.

"Silakan siapa saja yang mau gabung. Lebih sip kalau ada orang medis, dokter, yang ikut. Biar kalau ada yang semaput seperti dialami Pak Ong (Ong Harry Wahyu, perupa Yogyakarta) tempo hari, ada yang bisa memberi pertolongan secara benar, he-he-he."

Jalan kaki itu bisa juga sekaligus untuk persiapan pementasan Teater Gandrik berjudul Hakim Sarmin di Taman Budaya Yogyakarta, 29-30 Maret, dan di Jakarta, 5-6 April. Butet salah satu aktornya. (TOP)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Maret 2017, di halaman 32 dengan judul "Sarekat Ngobong Kalori".


Penulis :
Editor : Ati Kamil