Tiga Diet Terburuk di Tahun 2016 - Kompas.com
Jumat, 26 April 2024

Kaleidoskop 2016

Kaleidoskop 2016

Simak rangkuman peristiwa, informasi, dan ulasan topik hangat yang terjadi selama tahun 2016..

Tiga Diet Terburuk di Tahun 2016

Sabtu, 10 Desember 2016 | 12:12 WIB
Shutterstock Ilustrasi smoothie

KOMPAS.com - Apakah Anda termasuk orang yang sering mencoba diet baru dan diklaim memberi hasil instan? Setiap tahun bermunculan metode diet terbaru, tetapi Anda harus bijaksana memilihnya karena tidak semua aman.

Beberapa jenis diet mengharuskan kita berpantang beberapa jenis makanan dan memperbanyak bahan makanan tertentu. Diet seperti ini biasanya dalam jangka panjang akan membuat kekurangan gizi karena kita hanya mengasup makanan yang itu-itu saja.

Ketahui apa saja diet yang dianggap terburuk di tahun 2016 ini, seperti dilansir dari MedicalDaily:

- Diet lemon
Diet yang berlangsung selama 10 hari ini sebenarnya memang bisa memberikan hasil penurunan berat badan secara cepat. Diet lemon bisa dilakukan dengan mengonsumsi ramuan dari air, perasan lemon, cabai merah, dan sirup maple.

Meski pada awalnya ditujukan sebagai program detoksifikasi, tetapi banyak orang yang malah menerapkannya untuk menurunkan berat badan. Walau memberi hasil instan, sayangnya diet lemon ini akan membuat berat badan kembali naik setelah program diet selesai.

- Diet sup kol
Diet ini juga dianggap sebagai cara untuk membersihkan tubuh dari toksin. Selama satu minggu kita diminta mengurangi pola makan dengan memperbanyak asupan sup kol atau kembang kol dan hanya boleh minum air putih.

"Hanya mengonsumsi makanan tertentu saja dalam beberapa waktu adalah cara tidak sehat untuk langsing. Sayuran memiliki kalori yang rendah sehingga bisa membuat metabolisme jadi lambat," kata Erin Palinski-Wade, ahli gizi.

- Diet jus
Pola makan Juice Fast diklaim menjadi cara efektif melakukan detoksifikasi. Dalam metode diet ini kita disarankan untuk minum air putih sedikit setelah mengonsumsi makanan yang dijus.

Jus yang terbuat dari sayuran dan buah-buahan ini sebenarnya memang sehat, tapi tidak untuk menggantikan waktu makan. Jus tersebut hanya mengandung sedikit karbohidrat, serat dan vitamin, sehingga membuat tubuh kekurangan protein dan energi.

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: Medical Daily