Basuki Berkisah, Persiapan Asian Games Ibarat Musik "Rock and Roll"

By Erwin Hutapea - Senin, 10 September 2018 | 21:00 WIB
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyampaikan materi saat Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture (SML) XVIII di Auditorium LIPI, Jakarta, Kamis (23/8/2018).
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyampaikan materi saat Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture (SML) XVIII di Auditorium LIPI, Jakarta, Kamis (23/8/2018). (Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, infrastruktur Indonesia ketinggalan dengan negara lain.

Oleh karena itu, pemerintah dan semua pihak harus bekerja sama melakukan lompatan dalam pembangunan infrastruktur.

"Kita harus melakukan lompatan, istilahnya frog leap atau lompatan katak. Lompatan ini yang harus kita buat untuk mengejar karena kita sudah ketinggalan dari negara lain," ujar Basuki dalam acara Penganugerahan Apresiasi kepada para pendukung keberhasilan Asian Games 2018, di Jakarta, Senin (10/9/2018).

Baca juga: Tak Boleh Ada yang Mengklaim, Asian Games Sukses Bersama

Basuki mengatakan, kalau tidak melakukan lompatan pembangunan, maka infrastruktur Indonesia akan terus tertinggal dari negara lain.

Sarah Tria  Monita (23) atlet pencak silat peraih medali emas di gelaran ajang olahraga Asian Games 2018 saat pulang kampung ke Kediri, Jawa Timur, Rabu (5/9/2018).
Sarah Tria Monita (23) atlet pencak silat peraih medali emas di gelaran ajang olahraga Asian Games 2018 saat pulang kampung ke Kediri, Jawa Timur, Rabu (5/9/2018). (KOMPAS.com/M AGUS FAUZUL HAKIM )
Pembangunan infrastruktur harus dilakukan dengan langkah yang lebih cepat. Basuki mengibaratkan hal itu dengan jenis lagu rock and roll yang berirama cepat, bukan dengan lagu pop atau keroncong bernada lambat.

"Kalau saya sering bilang, kita enggak bisa lagi dengan lagu pop atau keroncong, harus rock and roll," imbuhnya.

Percepatan pembangunan infrastruktur itu juga diaplikasikan saat menyiapkan prasarana dan sarana menjelang Asian Games 2018 di Indonesia.

Dia mengisahkan sewaktu kali pertama mengikuti rapat bersama Olympic Council of Asia (OCA). Saat itu Indonesia hanya diberi waktu 1,5 tahun untuk mempersiapkan segala hal menjelang ajang olahraga terakbar di Asia itu.

Padahal, biasanya persiapan yang diperlukan suatu negara untuk ajang olahraga sekelas Asian Games paling tidak empat tahun.

Fasilitas bagi penyandang disabilitas di Stadion Renang (Aquatic), Kompleks Gelora Bung Karno.
Fasilitas bagi penyandang disabilitas di Stadion Renang (Aquatic), Kompleks Gelora Bung Karno. (Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)
"Waktu pertama kali saya ikut rapat OCA itu hampir dipindah. Saya hanya pede saja, saya bilang I can make it," ujarnya.

Dan benar, ternyata Indonesia bisa melakukan persiapan itu dengan baik dan mendapat apresiasi dari OCA dan International Olympic Committee (IOC).

Bahkan, pemerintah mengklaim Indonesia berhasil memperoleh kesuksesan dalam tiga hal, yaitu sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, serta sukses prasarana dan sarana.

"Kita telah menunjukkan kepada dunia dalam penyelenggaraan Asian Games ini.
Tiga hal yang dianggap sukses dalam Asian Games ini, yakni sukses penyelenggaraan, prestasi, serta prasarana dan sarana," tutup Basuki.

Penari menari di atas panggung untuk menyambut Asian Games ke-19 di Hang Zhou, China, pada Upacara Penutupan Asian Games ke-18 tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (2/9/2018).
Penari menari di atas panggung untuk menyambut Asian Games ke-19 di Hang Zhou, China, pada Upacara Penutupan Asian Games ke-18 tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (2/9/2018). (KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Editor : Hilda B Alexander
Artikel Terkait


Perolehan Medali

Negara Emas Perak Perunggu Total
Lihat Selengkapnya
Close Ads X