Bahas Harga Gas, Dirut Pupuk Indonesia Temui Menperin

Selasa, 13 September 2016 | 17:26 WIB

Pramdia Arhando Julianto Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono bersama Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat dan Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Nugroho Christijanto meninjau pembangunan Fasilitas Produksi Amoniak dan Urea (Amorea) II PT Petrokimia Gresik di Gresik, Jawa Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat dan direksi anak perusahaan Pupuk Indonesia menemui Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartanto.

Mereka rencananya akan membahas harga gas industri dalam negeri yang masih terlampau mahal sehingga membuat industri pupuk nasional tidak kompetitif.

"Intinya bicara soal harga gas, khususnya untuk pabrik pupuk, yang masih cukup tinggi," ujar Aas Asikin, di Kemenperin, Jakarta, Selasa (13/9/2016).

Aas memaparkan, saat ini biaya produksi industri pupuk melambung tinggi karena harga gas yang tinggi. Pasalnya, 70 persen biaya produksi pupuk dihabiskan untuk gas.

Menurutnya, hal itu mempersulit industri pupuk nasional untuk bersaing dengan negara lain.

Dia menambahkan, harga gas untuk industri pupuk di negara lain sekitar 1-3 dollar AS per Million Metric British Thermal Unit (MMbtu).

Adapun industri pupuk membeli gas di Indonesia dari Pertamina sekitar 6-7 dollar AS per MMbtu.

Akibatnya, harga jual pupuk Indonesia mencapai 250 dollar AS per ton, sementara harga internasional seperti China sekitar 200 dollar AS per ton.

Terkait hal ini, Kemenperin tengah mengusulkan 10 sektor industri dan kawasan industri yang perlu mendapatkan harga gas yang lebih murah.

Saat ini, harga gas industri di Indonesia rata-rata 8-10 dollar AS per Million Metric British Thermal Unit (MMbtu), lebih mahal dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.

Harga gas industri di Singapura sekitar 4-5 dollar AS per MMbtu, Malaysia 4,47 dollar AS per MMbtu, Filipina 5,43 dollar AS per MMbtu, dan Vietnam sekitar 7,5 dollar AS per MMbtu.


Penulis : Pramdia Arhando Julianto
Editor : M Fajar Marta