Severity: Warning
Message: Invalid argument supplied for foreach()
Filename: controllers/topikpilihan.php
Line Number: 54

Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mengaku, dirinya tak memiliki otoritas atas kasus tewasnya penyandang tuna netra, Jhony Malela.
Rumah kontrakan almarhum Jhony Malela di Pondok Cabe selain dijadikan klinik ternyata juga digunakan sebagai tempat kumpul para tunanetra.
Polisi menghentikan penyelidikan kasus kematian Jhony Malela, seorang tunanetra yang tewas saat mengantre ingin ber-Lebaran dengan Presiden SBY.
Setelah berbicara dengan Ny Euis Rusmayati, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan, Jhony Malela ternyata mengidap darah tinggi.
Dr Saharuddin Daming meminta agar pemerintah mengkaji ulang open house di istana dengan cara bagi-bagi uang yang jadi magnet bagi tunanetra lain.
Jenazah Jhoni Malela tidak akan melalui proses otopsi di RSCM. Hal tesebut berdasarkan keputusan dari istri Jhoni, Euis Rosmiati.
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih memastikan bahwa tidak ada bukti tindak kekerasan pada jenazah Jhony Malela.
Jenazah Jhony Malela akan dibawa ke kampung halaman istrinya di Garut, Jawa Barat, malam ini juga.
Mendengar ada korban meninggal dalam antrian silaturahim ke Istana Negara, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih langsung ke RSCM.
Kasubag Tata Usaha Theresia YI mengatakan sekitar enam ratus warga gagal bersilaturahim dan bersalaman dengan Presiden Yudhoyono dan keluarga.
Presiden SBY memberikan santunan Rp 10 juta bagi keluarga Jhony Malela yang tewas akibat desak-desakan saat mengantre untuk masuk Istana Negara.
Naas betul nasib Jhony Malela 45. Di hari kemenangan hidupnya berakhir di depan Istana Negara saat ingin bersalaman dengan pemimpinnya.