Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Demokrat: Lobi Itu Lumrah
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Jumat, 19 Februari 2010 | 10:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kencangnya lobi-lobi antar-fraksi dan pimpinan partai politik menjelang berakhirnya masa tugas Pansus Angket Kasus Bank Century, diakui sejumlah politisi partai, baik koalisi maupun oposisi.

Partai Demokrat, sebagai komandan koalisi, santer diinformasikan aktif menggelar sejumlah pertemuan dengan mitra koalisi. Sekjen Partai Demokrat, Amir Syamsuddin, mengatakan, lobi merupakan hal yang lumrah. Namun, lobi-lobi yang dilakukan bukan untuk "memaksa" koalisi mengubah pandangannya.

"Mekanisme lobi hal yang lumrah dalam politik. Masalahnya, lobi selama ini dipersepsikan akan mengubah pandangan. Tidak seperti itu," kata Amir, Jumat (19/2/2010) pagi, kepada Kompas.com.

Kalau pun akhirnya fraksi berubah pandangan, menurutnya, karena didasarkan pada fakta dan data yang dikumpulkan hingga akhir pemeriksaan. "Data dan fakta itu memang memungkinkan perubahan itu, bukan kepada lobi. Misalnya, teman koalisi punya pendirian keras sejak semula bahwa data dikejar adalah adanya aliran dana ke parpol. Kalau itu tidak ada, jangan dipaksakan. Tapi mereka bertahan supaya tampak konsisten dan garang, tidak realistis juga," kata Amir.

Pertemuan-pertemuan antar parpol peserta koalisi, dikatakan Amir, merupakan pertemuan rutin yang juga selalu diadakan ketika Pansus berjalan. Melalui pertemuan itu, ada penyelarasan data yang diperoleh ketika awal kerja Pansus dan akhir Pansus berjalan. Amir membantah, lobi-lobi untuk mempengaruhi sikap mitra koalisi dalam rekomendasi akhirnya.

Editor: mbonk Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.