- Pemilih dengan nama dan tempat tanggal lahir yang sama tetapi NIK berbeda.
Data DPS per 1 Juni berjumlah 13.113 pemilih.
Data DPT per 7 Juni meningkat menjadi 132.171. Temuan ini tersebar di seluruh wilayah Jakarta tapi paling banyak ditemukan di wilayah Jakarta Timur di Kelurahan Cipinang.
- Satu NIK yang digunakan untuk beberapa nama, di beberapa TPS lintas kotamadya.
Data DPS 1 Juni 2012, timses menemukan ada 21.537 pemilih dengan data ganda di dalam DPS.
Data DPT 7 Juni menurun sebanyak 20.334 pemilih. Temuan ini paling banyak ditemukan di Jakarta Timur di Kelurahan Palmeriam.
- NIK berubah untuk data pemilih yang sama.
Data DPS per 1 Juni sebanyak 44.696 pemilih
Data DPT per 7 Juni meningkat menjadi berjumlah 46.150 pemilih yang dimanipulasi dengan modus mengubah data NIK padahal pemilihnya sama.
- NIK kosong di dalam DPT, timses menemukan NIK yang hanya tertulis angka 00000000.
Data DPS pada tanggal 1 Juni 2012, ada 6.449 NIK kosong.
Jumlah itu justru bertambah saat DPT disahkan yakni meningkat menjadi 6.457 data dengan NIK kosong. Temuan ini paling banyak ditemukan di wilayah Jakarta Timur pada Kelurahan Pondok Bambu.
- Nomor Induk Kependudukan (NIK) palsu atau bodong.
Data DPS tanggal 1 Juni mengungkap ada 17.073 pemilih fiktif karena NIK palsu atau bodong.
Data DPT pada 7 Juni turun menjadi 15.770 pemilih. Temuan banyak di Jakarta Timur.
- Adanya NIK baru yang muncul dalam DPT.
Timses menemukan pada saat DPS dikeluarkan tanggal 1 Juni 2012 ada sekitar 157.663 pemilih. Saat DPT disahkan, NIK baru bertambah menjadi 163.727 pemilih. Temuan banyak di Jakarta Timur khususnya Kelurahan Ciracas.
- Penduduk DKI Jakarta yang tidak punya NIK dan Kartu Keluarga (KK) tapi terdata.
DPS per tanggal 1 Juni 2012 terdapat 328.054 pemilih yang tidak memiliki NIK dan KK tapi terdaftar dalam DPT. Jumlah ini terkoreksi cukup banyak pada DPT, jumlahnya tersisa hanya 2.546 pemilih.
JAKARTA, KOMPAS.com – Meski putaran pertama Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta telah usai, masalah kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) masih terus bergulir mengingat pemungutan suara putaran kedua akan kembali dilakukan pada 20 September mendatang. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta mengatakan tidak akan ada pemutakhiran DPT kembali sehingga DPT yang diubah pada 9 Juli 2012 tetap akan digunakan.
"..kendati telah dilakukan pengurangan 21.344 nama dalam DPT pada 9 Juli lalu, sebagian pihak menganggap
carut marut DPT ini belum tuntas"
Padahal, kendati telah dilakukan pengurangan 21.344 nama dalam DPT pada 9 Juli lalu, sebagian pihak menganggap carut marut DPT ini belum tuntas. Banyak warga ibu kota yang akhirnya menjadi korban dari semrawutnya data yang dirilis oleh KPU Provinsi DKI Jakarta.
Tim sukses pasangan Jokowi-Ahok menemukan sekitar 175.000 potensi pemilih ganda dalam daftar pemilih yang disediakan KPU Provinsi DKI Jakarta. Sementara tim sukses pasangan Hidayat-Didik menemukan sekitar 44.696 data ganda. Sedangkan tim sukses pasangan Alex-Nono mendapat temuan sekitar 400.000 potensi pemilih ganda.
Namun setelah disisir ulang oleh lima tim sukses dari pasangan Hendardji-Riza, pasangan Jokowi-Ahok, pasangan Hidayat-Didik, pasangan Faisal-Biem dan pasangan Alex-Nono, didapat sekitar 387.155 pemilih di dalam DPT yang bermasalah.
Dari penyisiran itu, tim sukses menemukan banyak modus yang dilakukan dalam memanipulasi DPT. Setidaknya ada tujuh modus manipulasi yang terjadi yakni sebagai berikut:
- Pemilih dengan nama dan tempat tanggal lahir yang sama tetapi NIK berbeda.
Data DPS pada 1 Juni 2012 menunjukkan ada 13.113 pemilih yang memiliki nama dan tempat tanggal lahir yang sama tetapi NIK-nya berbeda. Setelah data disahkan menjadi DPT pada 7 Juni 2012, jumlah kasusnya meningkat menjadi 132.171. Temuan ini tersebar di seluruh wilayah Jakarta tapi paling banyak ditemukan di wilayah Jakarta Timur.
Contohnya, ada dua NIK untuk warga bernama Mujiyarti yang lahir di Karang Anyar tanggal 10 Januari 1979, dan beralamat di Cipinang Galur Kulon RW 005 RT 001. Ia tercatat di TPS 023 kelurahan Cipinang Besar Selatan dengan dua NIK berbeda yaitu 3175035001790013 dan 3175035001810013. Pada NIK yang kedua, tahun lahir Mujiyarti berubah menjadi 10 Januari 1981.
- Satu NIK yang digunakan untuk beberapa nama, di beberapa TPS lintas kotamadya.
Pada tanggal 1 Juni 2012, timses menemukan ada 21.537 pemilih dengan data NIK sama namun namanya berbeda dalam DPS. Sedangkan pada data DPT yang dikeluarkan 7 Juni, jumlah kasus menjadi 20.334 pemilih, dengan selisih hanya 1.203 pemilih. Pengurangan itu belum menunjukkan perubahan yang berarti. Temuan ini paling banyak ditemukan di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat.
Contoh NIK 317501690292005 ditemukan atas nama Andhini Hervianti dengan alamat Jalan Tegalan IV No. 52 Kelurahan Palmeriam, Kecamatan Matraman Jakarta Timur dan tercatat di TPS 012. Anehnya, NIK yang sama ditemukan juga atas nama Shinta Widiawati yang beralamat di Jalan Kesatrian IV Kelurahan Kebon Manggis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur dan tercatat di TPS 026.
- NIK berubah untuk data pemilih yang sama.
Berdasarkan data DPS 1 Juni 2012, ada 44.696 data NIK yang berbeda, padahal pemilihnya sama. Sedangkan pada data DPT pada 7 Juni 2012 kasus itu ditemui pada 46.150 pemilih.
Contohnya: nama Carolin Magdalena yang lahir di Kendari pada 22 September 1948, jenis kelamin perempuan dan beralamat di Wisma DPR RI B-DIII/297 RT 006 RW 005, Kel. Rawa Jati, Kec.
Pancoran, Jakarta Selatan DKI Jakarta memiliki NIK 3174086209480062. Namun muncul nama yang sama dengan alamat yang juga sama tapi jenis kelamin dan tanggal lahirnya berbeda. Begitu pula NIK-nya berubah menjadi 3174086005790001.
- NIK kosong di dalam DPT.
Temuan timses dari DPS pada tanggal 1 Juni 2012, ada 6.449 NIK kosong , yang hanya tertulis angka 00000000. Jumlah itu bertambah saat DPT disahkan yakni meningkat menjadi 6.457 data dengan NIK kosong. Temuan ini paling banyak ditemukan di wilayah Jakarta Timur pada Kelurahan Pondok Bambu.
Contoh atas nama Dian Wahyuni yang lahir di Jakarta pada tanggal 10 Januari 1980 dengan alamat Kampung Cilungup II RT 06/RW02, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit. Yang bersangkutan memiliki NIK 0000000000000000.
- Nomor Induk Kependudukan (NIK) palsu atau bodong.
Hal ini diketahui dengan melihat NIK yang tertera dalam DPT yang jumlahnya lebih atau kurang dari 16 digit. Modus seperti ini terjadi di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Timses menilai persoalan ini sebenarnya sudah dilaporkan ke KPU DKI Jakarta pada tanggal 1 Juni 2012. Temuan timses dari Daftar Pemilih Sementara (DPS) tanggal 1 Juni mengungkap ada 17.073 pemilih fiktif karena NIK palsu atau bodong. Jumlah ini hanya terkoreksi sedikit yakni 1.303 pemilih sehingga jumlah NIK bodong menjadi 15.770 pemilih.
Contoh atas nama Arif Sudarso yang tercatat di Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas memiliki NIK kurang dari 16 digit yaitu 054100712690403. Anehnya lagi, NIK ini tidak diawali dengan angka 31 atau 09. Padahal KTP DKI Jakarta semestinya diawali dengan 31 atau 09.
- Adanya NIK baru yang muncul dalam DPT.
Timses menemukan pada saat DPS dikeluarkan tanggal 1 Juni 2012 ada sekitar 157.663 pemilih. Saat DPT disahkan, NIK baru bertambah menjadi 163.727 pemilih.
Contoh nama Sri Yanti yang lahir di Indramayu pada 10 Januari 1992 dan tinggal di Ciracas RW 001 RT 001 Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas dengan NIK 3171025001920003 muncul dalam DPT. Padahal nama ini tidak pernah ada dalam DP4 maupun DPS.
- Penduduk DKI Jakarta yang tidak punya NIK dan Kartu Keluarga (KK) tapi terdata.
Temuan timses pada DPS per tanggal 1 Juni 2012 terdapat 328.054 pemilih yang tidak memiliki NIK dan KK tapi terdaftar dalam DPT. Jumlah ini terkoreksi cukup banyak pada DPT sehingga jumlahnya menjadi hanya 2.546 pemilih.
Contoh nama Muhammad Taufik Friyatna yang lahir di Jakarta pada 8 Mei 1983 dan tinggal di Kelurahan Rawa Badak Utara, Kecamatan Koja memiliki NIK 3172030508830017 tapi tidak memiliki NIK KK. Padahal tiap penduduk DKI Jakarta secara resmi harus mempunyai atau masuk dalam kartu keluarga.