Kamis, 2 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Mamukur dan Megibung di Bali
Penulis: Bondan Winarno
A- A. A+
BONDAN WINARNO
Sajian bumbu Bali.
Foto:
1 2 3

TERKAIT:

Minggu lalu, saya diundang keluarga besar Gusti Arya Kubontubuh-Kuthawaringin untuk menghadiri upacara mamukur bagi para leluhur mereka. Menurut undangan yang saya terima, dijelaskan bahwa Puncak Karya Mamukur adalah tahapan upacara tertinggi setelah ngaben (kremasi atau pembakaran jenazah). Karena sudah beberapa kali ikut ngaben, tetapi belum pernah sekalipun menghadiri upacara mamukur, maka saya sempatkan datang memenuhi undangan tersebut.

Pengemudi taksi yang mengantar saya ke Desa Pesangkan di Kabupaten Karangasem mengatakan bahwa di Bali upacara mamukur sudah semakin jarang diselenggarakan. Menurutnya, mamukur berasal dari kata bhu (alam) dan ur (atas). “Karena keluarga kami orang tidak mampu, beberapa tahun yang lalu kami baru sanggup melakukan mamukur massal untuk arwah leluhur tujuh turunan di atas kami,” katanya. Ungkapannya yang jujur itu memberi gambaran bahwa sesungguhnya biaya untuk melakukan mamukur bisa jauh lebih mahal daripada upacara ngaben.

Sekalipun mahal, mamukur adalah upacara sakral yang menjadi kewajiban penganut Hindu Bali. Dalam ajaran agama ini, setiap orang mempunyai utang kepada Sang Hyang Widi Wasa, Guru, dan Leluhur. Pemahaman ini melahirkan sebuah kewajiban suci yang disebut Pitra Yadnya. Karena itu, ketika orang tua meninggal, maka anak-anak berkewajiban menyelenggarakan ngaben dan kemudian mamukur – keduanya merupakan bagian dari rangkaian upacara penyucian atma (roh).

Dalam kepercayaan Hindu Bali, atma adalah percikan Sang Pencipta di dalam tubuh manusia yang tidak akan pernah mati. Ketika manusia hidup, atma melekat pada badan wadag (kasar). Tetapi, ketika manusia mati, atma-nya masih melekat pada badan halus (suksma sarira) yang tidak kasat mata. Atma dan suksma sarira ini masih memiliki sifat-sifat dan keinginan manusiawi. Upacara mamukur adalah penyucian atma agar terlepas dari suksma sarira, dan menjadi roh suci (dewa pitara) yang menyatu dengan Sang Hyang Widi Wasa.

“Sesudah di-aben, suksma sarira bisa keluar-masuk pura bahkan rumahnya yang dulu, tanpa kita dapat melihatnya. Setelah mamukur, karena sudah suci dan terbebas dari badan halus, dewa pitara dapat menitis ke dalam badan wadag cucu atau cicitnya yang baru lahir,” begitu penuturan pengemudi taksi yang ternyata sangat memahami keagamaan.

Dengan kata lain, upacara ngaben untuk melepaskan roh dari badan kasar, sedangkan mamukur untuk melepaskan roh dari badan halus dan menjadi roh suci – puncak kesempurnaan dalam siklus hidup manusia.

Dalam puncak karya mamukur, tidak ada lagi jenazah karena sudah di-aben beberapa waktu sebelumnya. Karena itu dibuatkan simbol-simbol badan halus yang akan diprosesi. Upacara mamukur yang saya hadiri di Desa Pesangkan itu sekaligus untuk 36 roh dari keluarga besar (dadya) Kubontubuh-Kuthawaringin. Setelah melalui berbagai upacara pendahuluan yang sangat njelimet, ke-36 simbol roh itu dikelilingkan bersama seekor lembu putih mengitari payadnyan atau stana, simbol rumah bagi roh. Ini melambangkan perjalanan roh dengan menunggang Nandini.

Setelah semua simbol-simbol roh ditempatkan di stana, pada tengah malam dilakukan upacara pembakaran simbol-simbol itu. Keesokan harinya, abu diantar ke laut untuk dilarung. Maka, tuntaslah sudah upacara mamukur yang sakral itu.

Megibung

Tentu saja, karena lamanya prosesi mamukur, maka pada saat-saat tertentu diadakan jeda makan bagi semua peserta upacara. Karena Desa Pesangkan merupakan bagian Kabupaten Karangasem, tentu pula acara makan bersamanya memakai tradisi megibung yang sangat khas Karangasem. Megibung adalah collective meal atau communal meal yang sangat mirip dengan cara makan bersama orang Arab, yaitu empat hingga enam orang mengelilingi satu talam berisi nasi dan lauk-pauk, dan kemudian disantap bersama.

Konon, menurut sejarah, tradisi megibung justru datang dari pulau seberang, yaitu Lombok. Ketika sepasukan prajurit dibawa Raja Karangasem menyeberang ke Lombok, mereka melihat tradisi makan bersama dilakukan masyarakat setempat yang beragama Islam. Raja menyukai tradisi itu, dan kemudian mengajak para prajuritnya makan bersama, yang dianggapnya sebagai salah satu cara demokratis dan menjembatani kesenjangan. Raja ikut duduk lesehan, dan makan bersama prajurit. Para prajurit pun termotivasi oleh sikap kamaraderi itu. Tradisi egalitarian yang semula agak militeristik ini kemudian dibawa pulang dan diadaptasi menjadi budaya rakyat di Karangasem.

Mungkin karena pada awalnya berasal dari tradisi militer, sampai sekarang tampak adanya “disiplin” dalam penyelenggaraan megibung. Aturan megibung cukup diketahui oleh warga Karangasem sebagai nilai-nilai turun-temurun. Bersendawa, bersin, meludah, (maaf, juga kentut), terlarang selama megibung. Tangan harus dicuci bersih sebelum menghadapi makanan, dilarang bicara dan tertawa keras-keras, serta dilarang menjatuhkan remah makanan dari suapan – apalagi dari mulut.

Nasi disajikan di atas dulang atau nampan. Lauk-pauk disajikan di dulang yang lain. Seorang yang ditunjuk akan menggunakan tangannya yang bersih untuk membagi nasi ke dalam gundukan-gundukan kecil sesuai dengan jumlah orang yang duduk lesehan mengeliling dulang. Demikian pula lauk-pauk dibagi secara merata.

Lauk-pauk untuk megibung cukup standar. Untuk ritual resmi, misalnya, harus ada lawar pancawarna, yaitu semacam urap yang terdiri atas lima macam daun, antara lain daun belimbing. Satenya harus empat macam: ikan, kerbau, babi, ayam. Di masa lalu, untuk berbagai upacara tertentu, wajib ada sate penyu. Sekarang, demi pelestarian, diperlukan izin sangat khusus untuk menghadirkan sate penyu.

Di dekat Tirtagangga, sekitar lima tahun yang silam, saya pernah dipesona oleh masakan bebek menyatnyat yang tersaji dalam sebuah gibungan.  Dimasak dengan bumbu mejangkep atau base genep (bumbu lengkap), bebek menyatnyat ini – menurut saya – lebih lezat daripada bebek betutu. Ah, sajian ini sering membuat saya termimpi-mimpi.

Lauk untuk megibung biasanya juga melibatkan berbagai jenis tum (masakan yang dikukus dalam daun pisang) dan pesan (pepes bakar). Tum favorit saya di daerah ini adalah lindung (belut), dan telengis (ampas minyak kelapa, blondo). Ada pula tum ayam yang kemudian digoreng. Sungguh, sentuhan yang istimewa.

Jualan kuliner baru

Pada upacara mamukur di Pesangkan kemarin, ada satu jenis hidangan yang sebelumnya tidak pernah saya cicipi, yaitu daging kerbau bersama tulangnya, dimasak dalam ruas bambu. Cara memasak seperti ini cukup umum di beberapa daerah Nusantara, antara lain populer di Sumatra Barat, Minahasa, dan Toraja. Tentu saja tulangnya keras dan tidak enak. He he he! Tetapi, dagingnya yang langsung lepas – dengan bumbu mejangkep yang merasuk – merupakan ciri kelezatan cara masak slow roasting seperti itu. Ibu Pia Alisyahbana yang ketika itu bersama saya di satu sekah (enam orang yang mengelilingi satu dulang), tampak sangat menikmati pengalaman megibung dan lauk-pauk unik itu.

Terus terang, saya selalu bermimpi bahwa di masa yang tidak terlalu lama ini, tradisi megibung akan menjadi “jualan kuliner” baru yang trendy bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali. Mari, kita populerkan. Siapa tahu, dengan megibung kita dapat menghidupkan kembali solidaritas sosial, keramahtamahan, dan kesopansantunan bangsa kita ini.

Pada akhir tahun 2006, di Taman Sukasada Ujung, Karangasem, pernah diselenggarakan acara megibung massal yang melibatkan sekitar 20 ribu orang. Agaknya, peristiwa itu mendapat inspirasi dari Kenduri Nasional di Silang Monas pada tahun 1995, ketika kita merayakan Indonesia Emas. Alangkah indahnya bila puncak-puncak hari nasional kita ditandai dengan kenduri dan megibung seperti itu.

Sumber : KOMPAS.ccom
 
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan untuk kirim komentar Anda

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.