Pesona Perkampungan Tradisional di NTB

Kamis, 30 Oktober 2008 | 06:50 WIB
Dibaca:
Komentar:

KOMPAS/KHAERUL ANWAR
Halaman rumah juga dijadikan tempat menumbuk padi oleh warga Dusun Segenter, Kecamatan Bayan, Lombok Barat, NTB. Itu dilakukan secara gotong royong antar sesama keluarga.

TERKAIT:

MATARAM, KAMIS - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan mengembangkan obyek wisata perkampungan tradisional guna meningkatkan daya tarik wisatawan baik mancanegara maupun domestik.
     
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Lalu Gita Ariadi, di Mataram, pekan ini mengatakan, upaya pengembangan obyek wisata perkampungan tradisional itu tengah dikonsultasikan dengan unsur legislatif karena berkaitan dengan pengalokasian anggaran. "Itu salah satu terobosan dalam meningkatkan daya tarik wisatawan agar makin banyak yang berkunjung ke daerah ini," ujarnya.
     
Dicontohkan, perkampungan tradisional di Dusun Sade, Desa Rembitan dan Dusun Matek Maling, Desa Ganti, Kabupaten Lombok Tengah, yang masih mempertahankan rumah atap alang-alang dan di antaranya terdapat lumbung padi yang menampilkan daya tarik tertentu.
     
Di perkampungan tradisional itu juga masih terlihat warga membersikan kapas dari bijinya untuk bahan tenunan dan berbagai aktivitas yang mencirikan kehidupan alamiah.
     
Masyarakat di perkampungan tradisional itu bersedia menampung wisatawan yang berkunjung namun semuanya serba tradisional, termasuk penerangan dari ’dila jojor’ (sebutan lampu minyak tanah di kalangan warga Lombok). "Banyak wisatawan asing yang berkunjung ke sana sehingga terpikirkan untuk mengembangkan obyek wisata perkampungan tradisional itu," ujar Ariadi.
     
Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Pariwisata, Jacob Abidin, juga mengemukakan rencana pengembangan obyek wisata perkampungan tradisional itu guna menambah daya pesona sektor pariwisata di wilayah NTB.
     
Menurut dia, NTB masih memiliki obyek wisata perkampungan tradisional di sejumlah lokasi di Pulau Lombok yang layak dipertahankan sebagai bagian dari kekayaan budaya.
     
"Ketika ada wisatawan asing atau domestik yang berminat menikmati pesona wisata perkampungan tradisional tentu akan diarahkan sesuai keinginan dan akan ditata agar nuansa tradisional tetap terpelihara," ujar Abidin.
     
Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB itu menambahkan, NTB juga kaya wisata budaya yang sudah terjadwal sepanjang tahun sejak Januari hingga Desember.
     
Kalender pariwisata NTB dimulai dengan Festival Kesenian Tradisional Mbojo di Bima, Pulau Sumbawa, Bau Nyale di Desa Kuta dan Seger di Kabupaten Lombok Tengah dan Desa Kaliantan dan Jerowaru di Kabupaten Lombok Timur. Bau Nyale adalah kejadian alam yakni pemunculan cacing laut yang dikaitkan dengan budaya.
     
Kegiatan pariwisata lainnya Pawai Ogoh-ogoh, Barapan Kerbau di Sumbawa Besar, Malean Sampi (kesenian parade sapi berlari) setelah musim panen dan menjelang musim tanam berikutnya di Lombok Barat, Festival Gendang Beleq dan pacuan kuda tradisional di Pulau Sumbawa.    
     
Masih banyak kegiatan lain seperti Festival Senggigi (atraksi seni dan budaya tradisional suku Sasak), NTB Expo untuk promosikan hasil bumi dan Festival Seni Pelajar untuk melestarikan seni budaya di kalangan pelajar. Di samping itu juga kegiatan pariwisata Sail Indonesia dan Perang Topat (lempar ketupat) serta Pacuan Kuda Tradisional di Bima.

Sumber :
Antara
Editor :