Sabtu, 29 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Home > Sejarah KOMPAS
Nama KOMPAS Pemberian Bung Karno
Harian Kompas terbit pertama kali tanggal 28 Juni 1965, atau 45 tahun yang lalu. Pendirinya adalah PK Ojong, Jakob Oetama, dan Frans Seda. PK Ojong dan Jakob ketika itu sudah mengelola majalah Intisari yang terbit tahun 1963.

Menurut Frans Seda yang ketika itu adalah anggota kabinet, ide pertama pendirian koran ini datang dari Menteri Panglima TNI Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani. Dia mengusulkan agar kalangan katolik mendirikan harian umum untuk mengimbangi PKI.

Situasi politik tahun memang panas. Hampir semua partai politik mempunyai koran sebagai alat propagandanya. Akan tetapi Partai Katolik ketika itu belum memiliki koran sendiri.

Frans Seda akhirnya bertemu dengan PK Ojong dan Jakob Oetama, dua tokoh yang ketika itu sudah mengelola Majalah Intisari. PK Ojong sebelumnya juga mengelola majalah berbasah Inggris Star Weekly, Sedangkan Jakob Oetama mengelola majalah Penabur.

Sebagai langkah pertama, dibentuklah sebuah yayasan dengan nama Yayasan Bentara Rakyat yang rencananya akan menerbitkan harian bernama Bentara Rakyat juga. Salah satu alasannya, kata Frans Seda, nama Bentara sesuai dengan selera orang Flores. Majalah Bentara, katanya, juga sangat populer di sana.

Pemilihan kata Rakyat juga tanpa tujuan. Menurut Frans Seda, itu dimaksudkan untuk mengimbangi Harian Rakyat milik PKI. Bukankah kata Rakyat itu bukan monopoli PKI?

Untuk mendapatkan izin penerbitan ketika itu bukan perkara mudah. Selain aparat yang mengatur perizinan dikuasai PKI, penerbit juga harus bisa menunjukkan bukti bahwa sudah ada pelanggan sekurang-kurangnya 3.000 orang. Maka, Frans seda kemudian menginstruksikan kepada anggota-anggota partai, guru-guru sekilah, dan anggota Koperasi Kopra Primer di Kabupaten sikka, Ende Lio, dan Flores Timur untuk secepat mungkin mengirim daftar 3.000 pelanggan, lengkap dengan tanda tangan dan alamat.

Setelah tercapai, Frans Seda kemudian menghadap Bung Karno untuk melaporkan rencana penerbitan koran itu. Tanya Bung Karno" "Apa nama harian itu?" Jawab Frans Seda: "Bentara Rakyat."

Mendengar jawaban itu Bung Karno tersenyum dan berkata: "saya memberi nama yang lebih bagus. Kompas! Tahu toh apa artinya Kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan adn hutan rimba. Maka, harian baru itu terbit dengan nama Kompas.

Meski lahir dibidani partai, sejak awal PK Ojong dan Jakob sepakat minta agar harian baru itu tetap independen. Sebab, sejak awal PK Ojong hanya koran yang independenlah yang akan bisa berkembang dari sisi bisnis maupun redaksionalnya.

Dalam perjalanan panjangnya selama 45 tahun, Kompas pernah dua kali dilarang terbit (dibreidel). Tanggal 2 Oktober 1965, pemerintah melarang semua koran tetbit, berkait dengan peristiwa G30S/PKI, termasuk Kompas. Larangan itu kemudian dicabut, dan Kompas terbit kembali tanggal 6 Oktober 1965.

Pembreidelan kedua terjadi 21 Januari sampai dengan 6 Februari 1978. Ketika itu, Kompas bersama sejumlah koran lain dilarang terbit karena memberitakan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa.

KANTOR

Tahun

Keterangan

1965

Redaksi Pagi dan Tata Usaha berkantor di Pintu Besar Selatan 86-88. Redaksi Sore beralamat di Kramat Raya 45, agar dekat dengan PN Eka Grafika. Sementara administrasi dan sirkulasi ditangani PT Kinta. Karyawan Kompas berjumlah sekitar 20 orang.

1968

Redaksi Kompas pindah ke Pintu Besar Selatan No.80 yang juga tetap sempit, sementara jumlah karyawan membengkak menjadi 65 orang.

1969

Redaksi Kompas dan Intisari tetap menempati sebuah ruangan di Pintu Besar Selatan 80 Lt. 2, segedung dengan PT Kinta, Redaksi Sinar Harapan dan Majalah Djaja.

Januari

Bagian Iklan, sirkuasi, Keuangan dan Kontrol menempati gedung di Jl. Gajah Mada 104 yang dibeli atas nama Yayasan Intisari pada 3 Desember 1968.

1971

Gedung Percetakan Gramedia mulai dibangun.

1972, Oktober

Redaksi Kompas dan Intisari pindah dari Jl. Pintu Besar Selatan ke Jl. Palmerah Selatan No. 28, ke sebuah rumah dengan dinding-dinding berlapis porselen seperti WC.

November

Gedung Percetakan Gramedia diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

PERCETAKAN

Tahun

Keterangan

1965, 28 Juni

Dicetak di percetakan Eka Grafika di Jl. Kramat Raya, dekat bioskop Rivoli. Biasanya menunggu giliran hingga Koran Karya Bhakti selesai dicetak.

2 Agust.

Pindah ke percetakan Massa Merdeka di Petojo Selatan. Namun nasibnya tetap sama, harus antre di belakang Harian Angkatan Bersenjata.

Oktober

Pindah lagi ke percetakan PT Kinta, setelah Harian Suluh Indonesia yang biasa dicetak di sana, dilarang terbit.

1972, 25 Nov.

Dicetak oleh PT Gramedia.

1997, 1 Sept.

Cetak jarak jauh (CJJ) di Bawen, Jateng dimulai.

1 Okt.

Mulai CJJ di Makassar

1999, 1 Des.

Mulai CJJ di Rungkut Surabaya

2001, 20 Juni

Mulai CJJ di Palembang

1 Nov.

Mulai CJJ di Surabaya

2002, 1 Sept.

Mulai CJJ di Banjarbaru (Kalsel)

2003, 28 Juni

Mulai CJJ di Medan

2009, 1 April

Mulai CJJ di Gianyar, Bali

Sumber: Litbang Kompas
31/05/2010
Pep/Tgh/Hrm/Tha/Ari/sti


Merajut nusantara melalui liputan khusus berita dan video
Diangkat dari lagu-lagu Koes Plus Bersaudara dengan sutradara Garin Nugroho
Koran digital dengan pembaca terbanyak di Indonesia
Rubrik untuk membuka ruang interaktif pembaca,tokoh,dan pengelola media.