GRAMMY AWARDS 2011
Tempat-tempat Ziarah di Madinah
Rabu, 5 November 2008 | 12:32 WIB
Tempat-tempat ziarah di Madinah

1. Masjid Nabawi

Shalat di Masjid Nabawi nilainya sangat tinggi sebagaimana sabda Nabi SAW :
Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya. (HR. Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim).

  • Sejarah Berdirinya
    Waktu Rasulullah SAW masuk Madinah, kaum Anshar mengelu-elukan beliau serta menawarkan rumah untuk beristirahat. Namun Rasulullah SAW menjawab dengan bijaksana : “Biarkanlah unta ini jalan, karena ia diperintah Allah”. Setelah sampai di hadapan rumah Abu Ayyub Al Ansari, unta tersebut berhenti, kemudian beliau dipersilahkan oleh Abu Ayyub Al Ansari tinggal di rumahnya. Setelah beberapa bulan di rumah Abu Ayyub Al Ansari, Nabi mendirikan masjid di atas sebidang tanah yang sebagian milik As’ad bin Zurrah diserahkan sebagai wakaf. Sebagian lagi milik anak yatim Sahal dan Suhail anak Amir Bin Amarah dibawah asuhan Mu’adz bin Atrah, waktu membangun masjid Nabi meletakkan batu pertama selanjutnya kedua, ketiga, keempat dan kelima masing-masing oleh sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kemudian dikerjakan dengan gotong royong sampai selesai. Pagarnya dari batu tanah (setinggi +/-  2m). Tiang-tiangnya dari batang kurma, atap dari pelepah daun kurma, halaman ditutup dengan batu-batu kecil, kiblat menghadap Baitul Maqdis, karena waktu itu perintah Allah untuk menghadap Ka’bah belum turun. Pintunya tiga buah yaitu pintu kanan, pintu kiri dan pintu belakang. Panjang masjid 70 hasta, lebar 60 hasta. Dengan demikian masjid itu sederhana sekali tanpa hiasan, tanpa tikar dan untuk penerangan waktu malam hari digunakan pelepah kurma yang kering dan dibakar. Masjid tersebut dibuat tahun ke 1 Hijriyah. Di sisi timur masjid dibangun tempat kediaman Nabi dan keluarganya yang kemudian jadi tempat pemakamannya.

     
  • Waktu Ziarah ke makam Rasul dan Raudhah
    Masjid Nabawi berbeda dengan Masjidil Haram Makkah yang terbuka untuk jemaah selama 24 jam, karena Masjid Nabawi hanya dibuka pada jam 03.00 – 22.00 waktu Saudi Arabia, dan waktu untuk ziarah diatur sebagai berikut : Jamaah haji wanita dapat mengunjungi Raudhah dan ziarah ke makam Rasulullah pada pukul 07.00 s/d 10.00 dan pukul 13.30 s/d 15.00 waktu Saudi Arabia, tempatnya terpisah dengan laki-laki yang dibatasi dengan sekat yang dipasang khusus ketika wanita berziarah.

  • Tiang-tiang yang Bersejarah di Masjid Nabawi (Ustuwanah) :
    1. Tiang/Ustuwanah Aisyah
      Berada di tengah-tengah Raudhah sebelah barat makam Nabi. Nabi pernah mengimami shalat jamaah +/- 3 bulan di tempat ini setelah peralihan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram Makkah.
    2. Tiang Al Wufud
      Dikenal juga dengan nama tiang Abi Lubabah dan tiang Attaubah karena sahabat tersebut pernah merasa berdosa sehubungan dengan kesalahan yang diperbuatnya dalam memberi hukum bagi Yahudi Bani Nadzir yang tertahan. Abi Lubabah datang ke tiang tersebut dan mengikat dirinya di tiang itu dan berjanji tidak akan melepaskan dirinya kecuali Allah telah menerima taubatnya. Keadaannya itu dipertahankan sampai turunnya ayat (An Nisa 65-67) yang menjelaskan bahwa taubatnya telah diterima dan Rasulullah sendiri yang datang melepaskannya.
    3. Tiang Al Muhlakah
      Dikatakan demikian karena Rasulullah suatu waktu melihat dahak/kotoran melekat di tiang itu, maka Rasulullah memerintahkan seorang sahabat untuk membersihkannya, dan sahabat bahkan memberikan minyak wangi pada tempat tersebut dengan minyak huluk. Dan Nabi merasa gembira karena perbuatan sahabat tersebut dan ini merupakan minyak wangi pertama (benda pertama yang diberi minyak wangi) di Masjid Nabawi.
    4. Tiang As Sarir
      Berada di tempat I’tikaf Nabi di sebelah timur Ustuwanah At Taubah, dinamakan demikian karena dahulu di sini ada tempat tidur Nabi terbuat dari anyaman daun kurma dan pelepahnya.
    5. Tiang Al Haris / Al Muhris
      Tiang ini terletak di sebelah utara tiang Attaubah, dinamakan tiang Al Haris atau tiang pelayan, karena Sayyidina Ali bin Abi Thalib selalu menanti panggilan Rasulullah dalam membantu kepentingan dan perintah Rasulullah di tiang ini, dengan itu pulalah tiang ini dikenal pula dengan nama tiang Ali bin Abi Thalib.

     

  • Mihrab
    Masjid  Nabawi mula-mula tanpa Mihrab. Mihrab pertama dibangun tanggal 15 Sya’ban tahun ke 2 H setelah Rasulullah SAW menerima perintah memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Yerussalem ke Masjidil Haram Makkah. Mihrab yang sekarang ini, seluruhnya ada 5 buah, yaitu :
    1. Mihrab Nabawi, di sebelah timur mimbar. Tempat ini mula-mula dipakai untuk imam waktu beliau memimpin shalat. Mihrab ini hadiah dari Al-Asyraf Qait Bey dari Mesir.
    2. Mihrab Sulaiman di sebelah  kiri mimbar bentuknya sama dengan bentuk mihrab nabawi. Ini dibangun pada tahun 938 H merupakan hadiah dari Sultan bin Salim dari Turki.
    3. Mihrab Usmany, terletak di tengah-tengah dinding arah kiblat yang sekarang digunakan imam memimpin shalat berjamaah.
    4. Mihrab Tahajjud, di sebelah utara jendela makam Rasulullah. Bentuknya lebih kecil dari Mihrab Nabawi maupun Mihrab Sulaiman. Di tempat ini Rasulullah sering melakukan shalat Tahajjud, dan mihrab ini mengalami perubahan pada zaman Sultan Abdul Majid.
    5. Mihrab Al Majidi, di sebelah utara Dakkatul Agawat, jaraknya lebih kurang 4 meter. Dakkatul Agawat itu tempatnya agak meninggi antara Mihrab Tahajjud dan Mihrab Al Majidi, panjangnya 12 m, dan tingginya 0,5 m. Di tempat ini dahulu tempat berkumpulnya fakir miskin ahlus sufah.

2. Makam Rasulullah SAW

Makam Nabi Muhammad SAW dahulu dinamakan Masqurah. Setelah masjid itu diperluas, makam ini termasuk di dalam bangunan masjid. Pada bangunan ini terdapat empat buah pintu :

  1. Pintu sebelah kiblat dinamai pintu At Taubah.
  2. Pintu sebelah timur dinamai pintu Fatimah.
  3. Pintu sebelah utara dinamai pintu Tahajjud.
  4. Pintu sebelah barat ke Raudhah (sudah ditutup).
    Dalam ruangan ini terdapat 3 buah makam, yaitu makam Rasulullah SAW, Abu Bakar Assiddiq dan Umar Ibnul Khattab r.a.

3. Raudhah

Raudhah adalah suatu tempat di dalam Masjid Nabawi yang letaknya ditandai tiang-tiang putih, berada di antara rumah Nabi (sekarang makam Rasulullah SAW) sampai mimbar. Luas Raudhah dari arah timur ke barat sepanjang 22 m dan dari utara ke selatan 15 m. Raudhah adalah tempat yang makbul untuk berdo’a.
Sabda Rasulullah SAW :
“Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah (taman) di antara taman-taman surga.”  (Diriwayatkan 5 orang ahli hadits).

4. Makam Baqi’

Baqi’ adalah tanah kuburan untuk penduduk sejak zaman Jahiliyah sampai sekarang. Jamaah haji yang meninggal di Madinah dimakamkan di Baqi’ letaknya di sebelah timur dari Masjid Nabawi. Di situ dimakamkan Utsman bi Affan r.a, (khalifah III) dan para istri Nabi, yaitu Siti Aisyah r.a, Ummi Salamah, Juwairiyah, Zainab, Hafsah binti Umar bin Khattab dan Mariyah Al Qibtiyah r.a.
Putera dan puteri Rasulullah diantaranya Ibrahim, Siti Fatimah, Zainab binti Ummu Kulsum. Demikian pula Ruqayya Halimatus Sa’diyah ibu susu Rasulullah SAW.
Sahabat yang mula-mula dimakamkan di Baqi’ ialah Abu Umamah, Hasan bin Maz’un dari golongan muhajirin. Dikenal dengan nama Baqi’ Al Gorqod karena di sini dahulu kala tumbuh pohon-pohon Gorqod (gerumbul-gerumbul pohon, Gorqod = sejenis pohon-pohon yang berdaun kecil).
Di Baqi’ ini Rasulullah membaca salam / do’a sebagai berikut :
“Mudah-mudahan sejahtera atas kamu sekalian wahai (penghuni) tempat kaum yang beriman! Apa yang dijanjikan kepadamu yang masih ditangguhkan besok itu, pasti akan datang kepadamu, dan kami Insya Allah akan menyusulmu. Ya Tuhan! Ampunilah ahli Baqi’ Al-Gorqod. (H.R. Muslim)


5. Masjid Quba

Masjid Quba adalah sebuah masjid yang terletak di daerah Quba. Quba itu sendiri terletak +/- 5 km sebelah barat daya Madinah. Waktu Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, orang-orang pertama yang menyongsong kedatangan Rasulullah SAW adalah penduduk Quba. Karena orang-orang Quba dan Madinah belum mengenal Nabi, maka tatkala Nabi bersama pengiring tunggalnya yaitu Abu Bakar Assiddiq datang dengan pakaian yang sama-sama putih, mereka ragu-ragu mana yang Nabi. Hal ini menarik perhatian Abu Bakar untuk menghilangkan keragu-raguan mereka, maka Abu Bakar memegang selendangnya dan dilindungkan di atas kepala Nabi. Dengan demikian maka para penjemput mengerti yang mana Nabi. Kedatangan Nabi di Quba pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 kenabiannya atau tahun 53 dari kelahiran beliau. Menurut keterangan Mahmud Pasya Al Falaki, seorang ulama ahli falak terkenal di Mesir, bahwa hari kedatangan Nabi di Quba adalah bertepatan dengan tanggal 20 September 622 M. Dan pada waktu itu di Quba beliau menempati rumah Kalsum bin Hadam dari Kabilah Amir bin Auf. Di Quba inilah beliau mendirikan Masjid di atas sebidang tanah milik Kalsum bin Hadam. Batu pertama diletakkan oleh Nabi sendiri, kemudian berturut-turut diletakkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya dikerjakan oleh sahabat Muhajirin dan Anshar sampai selesai. Masjid Quba adalah masjid yang pertama-tama didirikan oleh Nabi Muhammad SAW dan masjid ini dibangun oleh Nabi Muhammad SAW 2 kali, pertama ketika kiblatnya menghadap Baitul Maqdis dan kedua ketika kiblatnya menghadap Baitullah.
Dalam membangun masjid ini beliau dibantu Malaikat Jibril yang memberi petunjuk kiblat masjid tersebut. Di masjid ini pula pertama kali diadakan shalat berjamaah secara terang-terangan. Letak Masjid Quba saat ini berada di sudut perempatan jalan tidak jauh dari jalan baru yang menghubungkan Madinah-Mekkah-Jeddah.

“Setiap hari Sabtu Rasulullah SAW mendatangi Masjid Quba berkendaraan atau berjalan kaki dan beliau shalat sunnat dua rakaat di dalamnya. Rasulullah SAW memberikan dorongan/menganjurkan datang ke Masjid Quba seraya berkata : Siapa saja yang bersuci (membersihkan diri dari najis dan hadats) di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala umrah. (Hadits riwayat Ahmad Nasa’I, Ibnu Majah, Hakim dan dia berkata sanadnya sahih.)

6. Jabal Uhud (Bukit Uhud)

Jabal Uhud adalah nama sebuah bukit terbesar di Madinah. Letaknya +/- 5 km dari pusat kota Madinah, berada di pinggir jalan lama Madinah-Makkah. Mulai tahun 1984 perjalanan haji dari Makkah ke Madinah atau dari Madinah ke Jeddah tidak melalui jalan lama tersebut, melainkan melalui jalan baru yang tidak melewati pinggir Jabal Uhud. Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah sebanyak 3000 orang. Dalam pertempuran tersebut yang gugur sampai 70 orang syuhada, antara lain Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW. Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 H. Waktu kaum musyrikin Makkah sampai di perbatasan Madinah, umat Islam mengadakan musyawarah bersama para sahabat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak para sahabat mengusulkan agar umat Islam menyongsong kedatangan musuh di luar kota Madinah. Usul ini akhirnya disetujui oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW menempatkan beberapa orang pemanah di atas gunung Uhud, dibawah pimpinan Mash’ab bin Umair untuk mengadakan serangan-serangan bilamana kaum musyrikin mulai menggempur kedudukan umat Islam. Dalam perang yang dahsyat tersebut umat Islam mendapat kemenangan yang gemilang sehingga kaum musyrikin lari pontang-panting. Pemanah umat Islam yang berada di atas gunung Uhud, setelah melihat barang-barang yang ditinggalkan oleh musuh, ada beberapa yang meninggalkan pos untuk turut mengambil barang-barang tersebut, padahal Nabi telah menginstruksikan agar tidak meninggalkan pos meski apapun yang terjadi. Adanya pengosongan pos oleh pemanah tersebut digunakan oleh Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) seorang ahli strategi yang meminpin tentara berkuda, menggerakkan tentaranya kembali guna menyerang sehingga umat Islam mengalami kekalahan yang tidak sedikit yaitu sampai 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada. Dalam perang ini Hindun binti ‘Utbah mengupah Wahsyi Alhabsyi, budak Zubair, untuk membunuh Hamzah, karena ayah Hindun dibunuh oleh Hamzah dalam perang Badar. Begitu pula Zubair bin Mut’im berjanji kepada Wahsyi akan memerdekakannya setelah ia membunuh paman Zubair dalam perang Badar. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan tersebut mendapat luka-luka. Para sahabat-sahabatnya yang menjadi perisai Nabi Muhammad SAW gugur karena badannya penuh dengan anak panah. Setelah perang usai kaum musyrikin mengundurkan diri kembali ke Mekkah, maka nabi Muhammad SAW memerintahkan agar mereka yang gugur dimakamkan ditempat mereka roboh, sehingga ada satu liang kubur berisi beberapa syuhada, kuburan Uhud waktu sekarang dikelilingi tembok.

a. Salam kepada Sayyidina Hamzah r.a. di Uhud
“Mudah-mudahan sejahtera atas kamu wahai paman Nabi Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib. Assalaamu’alaika wahai singa Allah dan singa Rasulullah. Assalaamu’alaika wahai penghulu syuhada.”

b. Salam kepada para syuhada di Uhud
“Mudah-mudahan sejahtera atas kamu wahai para syuhada Uhud, ya Allah, berilah mereka semua ganjaran karena Islam dan para pemeluknya dengan semulia-mulia ganjaran dan angkat tinggilah derajat mereka dengan keagungan-Mu dan kemurahan-Mu, wahai Tuhan yang Maha Pemurah dari segenap pemurah.

7. Masjid Qiblatain

Masjid tersebut mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq. Pada permulaan Islam, orang melakukan shalat dengan menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis di Yerussalem/Palestina. Pada tahun ke 2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di masjid Salamah ini, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144. Dalam shalat tersebut mula-mula Rasulullah SAW menghadap ke arah masjidil Aqsa tetapi setelah turun ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara, kemudian meneruskan shalat dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Qiblatain yang berarti masjid berkiblat dua.

8. Khandak/Masjid Khamsah

Khandak dari segi bahasa berarti parit. Dalam sejarah Islam yang dimaksud Khandak adalah peristiwa penggalian parit pertahanan sehubungan dengan peristiwa pengepungan kota Madinah oleh kafir Quraisy bersama dengan sekutu-sekutunya dari Yahudi Nadir, Bani Ghathfan dan lain-lainnya. Di saat itulah Rasulullah SAW mendengar kafir Quraisy bersama sekutu-sekutunya akan menggempur kota Madinah, maka Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat-sahabatnya, bagaimana cara menanggulangi penyerangan tersebut. Pada waktu itu sahabat Nabi, Salman Al Farisi memberikan saran supaya Rasulullah SAW membuat benteng pertahanan berupa parit. Usul tersebut diterima Rasulullah SAW sendiri. Maka digalilah parit pertahanan tersebut di bawah pimpinan Rasulullah SAW sendiri. Peristiwa pengepungan kota Madinah ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke lima Hijriyah. Peninggalan perang Khandak yang ada sampai sekarang hanyalah berupa lima buah pos yang dulunya berjumlah tujuh, yang menurut sebagian riwayat tempat tersebut adalah bekas pos penjagaan pada peristiwa Khandak dan sekarang dikenal dengan nama Masjid Sab’ah atau Masjid Khamsah.


|

  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.