GRAMMY AWARDS 2011
Produksi Kopi Indonesia Masih Posisi Empat Dunia
Rabu, 19 Maret 2008 | 11:02 WIB
KOMPAS/MAHDI MUHAMMAD
Ibu penangkar bibit kopi di Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Kamis (28/2), membersihkan tanah di sekitar batang dan akar bibit kopi miliknya. Para penangkar bibit kopi cukup terpukul karena kenaikan harga kantung polybag yang mencapai 50 persen lebih per kilogramnya.
TERKAIT:

JAKARTA,RABU - Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian (Deptan) bertekad untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen kopi maupun produk kopi unggulan di dunia pada 2025. Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Mangga Barani di Jakarta, Rabu (19/3) mengatakan, meski di peringkat dunia luasan areal perkebunan kopi Indonesia berada pada urutan besar kedua, namun untuk produksi dan ekspor ada di posisi empat.

Saat ini dengan produktivitas kopi sebesar 792 kg biji kering per hektar per tahun Indonesia masih dibawah Kolombia (1.220 kg/ha/tahun), Brazil (1.000 kg/ha/tahun) bahkan Vietnam (1.540 kg/ha/tahun). "Oleh karena itu melalui kebijakan kopi nasional dipilih strategi yang dapat mempercepat terwujudnya Indonesia sebagai produsen kopi dan produk kopi unggulan di dunia tahun 2025," katanya.
    
Menurut dia, kopi merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan penghasil devisa ekspor, sumber pendapatan petani dan penghasil bahan baku industri, penciptaan lapangan kerja dan pengembangan wilayah.

Dari luas areal 1,30 juta ha pada 2006, sebagian besar yakni 95,9 persen dusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat dan sisanya 4,10 persen berupa perkebunan besar baik oleh PTPN maupun swasta.

Data Ditjen Perkebunan mencatat perkebunan kopi yang diusahakan di Indonesia saat ini sebagian besar berupa kopi Robusta seluas 1,30 juta ha dan kopi Arabika mencapai 177.100 ha dengan total produksi 682.158 ton dan ekspor 413.500 ton pada 2006 dengan nilai 586.877 dolar AS.

Sementara itu pada 2007 total produksi kopi nasional sebanyak 686.763 ton serta luas areal 1,31 juta ha.

Achmad Mangga Barani mengatakan, dalam jangka panjang hingga 2025, salah satu kebijakan yang diterapkan yakni dalam hal peningkatan ekspor maupun peningkatan nilai tambah produk kopi nasional sehingga memiliki daya saing di pasar internasional.

Ekspor kopi Indonesia, tambahnya, tidak lagi berupa bahan mentah tapi dalam bentuk hasil olahan dengan mutu yang dikehendaki konsumen sehingga diperoleh nilai tambah di dalam negeri.

Hingga 2025 pemerintah menetapkan sasaran untuk mempertahankan areal sebesar 1,23 juta ha perkebunan kopi robusta serta meningkatkan produksi menjadi 865 ribu ton dan produktivitas tanaman menjadi 1000 kg/ha/tahun. Selain itu juga meningkatkan ekspor menjadi 505.000 ton terutama dalam bentuk produk hilir serta pendapatan petani kopi sebesar 3.000 dollar AS.

Sementara itu untuk kopi arabika diharapkan terjadi kenaikan areal menjadi 236 ribu ha dan produksi 193.000 ton dari 81 ribu ton serta produktivitas tanaman menjadi 1200 kg/ha/tahun maupun ekspor sebesar 135.000 ton.

Untuk itu pemerintah siap menerbitkan kebijakan investasi yang mendukung, pengembangan sarana dan prasarana berupa jalan, jembatan, pelabuhan, alat transportasi, komunikasi dan sumber energi.

Selain itu juga dukungan penyediaan pembiayaan untuk pengembangan kopi baik dari lembaga perbankan maupun non bank dengan memanfaatkan penyertaan dana masyarakat melalui Kontrak Investasi Kolektif, Resi Gudang maupun penumbuhan kembali pungutan komoditas dari komoditas. (ANT)


|

  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.