GRAMMY AWARDS 2011
Misa Imlek di Gereja Katedral Pontianak
Kamis, 7 Februari 2008 | 15:46 WIB
KOMPAS/PRIYOMBODO
Petugas di Wihara Dharma Bhakti, Glodok, Jakarta Barat, menata lilin-lilin berukuran besar

PONTIANAK, KOMPAS - Umat Nasrani Etnis Tionghoa di Kota Pontianak, Kamis (7/2), memadati Perayaan Ekaristi atau Misa Tahun Baru Imlek 2559 di Gereja Katedral Pontianak. Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronimus Bunbun OFMCap yang memimpin misa konselebrasi delapan pastor tersebut mengajak umat untuk bersyukur dan menyerahkan hidup di tahun baru ini ke dalam bimbingan Tuhan.

”Bagi sebagian umat mungkin tahun lalu mengalami kesusahan hidup. Di tahun baru Imlek ini, mari membuka lembaran baru dan memohon agar Tuhan senantiasa mendampingi dan memberkati. Bagi sebagian lagi mungkin kerjanya lancar dan usahanya maju. Karenanya, mari bersyukur agar Tuhan senantiasa mendampingi,” katanya.

Dalam khotbahnya, Pastor William Chang OFMCap mengungkapkan, setidaknya ada tujuh keterkaitan antara makna tradisi Imlek dengan ajaran Yesus. Keterkaitan itu meliputi momentum pembersihan diri, kebersamaan dalam jamuan makan, penghormatan terhadap orang tua, kehendak baik dalam bentuk amal atau angpau, pengusiran roh-roh jahat, keselamatan yang dilambangkan dengan jeruk, serta wujud syukur.

Berbeda dengan perayaan ekaristi pada umumnya, pada perayaan Imlek ini diselingi tarian tradisional Tionghoa yang dibawakan anak-anak kecil. Sejumlah lagu-lagu pujian yang dikidungkan juga menggunakan bahasa Mandarin. Selain itu, setiap umat juga dibagikan jeruk.

Sementara itu, warga etnis Tionghoa yang memeluk agama Buddha dan Khong Hu Cu di Pontianak tampak silih berganti berdoa di Vihara dan Klenteng. Umumnya mereka bersyukur atas rezeki pada tahun lalu dan meminta peruntungan di tahun baru ini. Di tempat-tempat ibadah itu dihiasi lilin-lilin besar dengan diameter 10-50 centimeter setinggi 20-200 centimeter, serta beragam lampion.


|

  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.