« back to index

Warga Muara Baru Capek Menghadapi Media

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Warga pemilik bangunan di bantaran Waduk Pluit berkumpul di sekitar lokasi pengerukan Waduk Pluit, Jakarta Utara, Selasa (14/5/2013). Mereka berjaga dan menolak pembongkaran rumah-rumah mereka untuk normalisasi Waduk Pluit sebelum berdialog dengan pemerintah daerah.

JAKARTA, KOMPAS.com — Warga Muara Baru merasa lelah karena terus-menerus berhadapan dengan kamera-kamera dari media massa yang terus berdatangan ke lokasi tersebut. Media terus meliput kawasan itu semenjak permasalahan pembongkaran rumah warga di bantaran Waduk Pluit mencuat sebulan lalu.

"Saya capek terus-terusan diliput. Saya pernah menangis ketika diwawancara. Saya malu dilihat banyak orang di televisi," kata Sutindang Cahaya, warga RT 17 RW 17, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (16/5/2013).

Rumah Sutindang di RT 17 RW 17, Penjaringan, Jakarta Utara, juga terancam dibongkar sebagai bagian dari pengosongan lahan Waduk Pluit. Wanita berusia 53 tahun ini mengatakan, sejak peristiwa itu ia memilih diam dan hanya mengamati. Ibu tiga anak itu selalu menolak jika ada media yang menawarkan untuk mewawancarainya.

Wanita kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, itu mengaku kesal karena walaupun ia menolak diwawancara, kamera-kamera media tetap menyorotnya. Ia kesal karena ketika ia sedang duduk dan sedang meratapi rumahnya, tetap saja dimuat di sebuah televisi.

"Saya lagi duduk doang, lagi bengong-bengong, tetap saja disorot. Saya waktu itu lagi megang kayu untuk saya jual. Karena masuk TV, Jokowi sampai bilang, 'Waduh, seram sekali ya ibu-ibu megang golok.' Padahal, saya megang kayu," ujarnya kepada Kompas.com.

Wanita yang tinggal di Muara Baru sejak ia berumur 10 tahun itu juga menolak rencana relokasi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Alasannya, rumah susun yang ditawarkan Pemprov DKI jauh dari tempatnya bekerja. Ia lebih suka jika Pemprov DKI memberikan uang ganti rugi sebesar Rp 3 juta per meter persegi.

Saat ini, Sutindang bekerja sebagai pedagang baju bekas keliling di Pasar Ikan, Penjaringan. Ia berjalan dari rumahnya dengan menggendong sebuah kantong plastik besar berisikan barang dagangan. "Kalau dipindahkan ke rusun, makin jauh perjalanan saya," katanya.

Editor : Laksono Hari W

Pesan Untuk Jokowi
+62811564xxx

Kalau dibilang presiden boneka jangan marah , yang penting bonekanya Allah Taala ...

+62811564xxx

Jangan lupa kemanapun wajah memandang harus terlihat Gusti Allah .

+62811564xxx

nyerang tanpa pasukan, perang tanpa pertempuran, menang tanpa mengalahkan, sakti tanpa aji aji . Semoga bpk selalu eling lan waspodo

Kirim pesan Anda untuk Jokowi
Ketik (160 karakter) : jokowi [spasi] [pesan]
Kirim : via sms ke 9858
Tarif : Rp.1000/sms (exclude PPn 10%)
 
Terpopuler Terkomentari
Galeri Foto
Video