KOMPAS.com Cetak ePaper Bola Entertainment Games Tekno Otomotif Female Health Properti Forum Kompasiana Images Mobile KompasKarier PasangIklan GramediaShop Urban Serpong

Sponsored By:

Ekspedisi Citarum
Tertatih di Seberang Waduk Jatiluhur
Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Minggu, 1 Mei 2011 | 13:59 WIB
|
Share:
KOMPAS/NELI TRIANA
Bendungan Jatiluhur

PURWAKARTA, KOMPAS.com — Turun dari perahu, Kusnadi (13) bergegas lari menaiki bukit di tepian Waduk Ir H Djuanda di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (30/3) pagi. Dengan nafas tersengal dia meminta izin Hermanto (48), sang guru, untuk masuk ke kelas yang telah setengah jam memulai pelajaran IPA.

Hari itu Kusnadi terlambat lagi. Seperti belasan temannya, siswa kelas II SMP Negeri 1 Sukasari itu harus menempuh perjalanan darat dan air dari rumah menuju sekolah. Setelah berjalan kaki ratusan meter, dia harus menyeberangi perairan sejauh lima kilometer, kemudian berjalan kaki lagi dari tepian waduk terdekat menuju sekolah.

Dengan mengandalkan satu-satunya perahu jemputan milik sekolah, siswa-siswa dari perkampungan seberang waduk itu sering terlambat masuk kelas. Sebab, Asikin (35), pengemudi perahu SMP 1 Sukasari, harus mendatangi siswa di sedikitnya dua titik penjemputan, yakni Kampung Gunung Buleud, Desa Ciririp serta Kampung Cibuni Pasir Desa Kertamanah.

Berangkat pukul 05.15, Asikin langsung menuju titik penjemputan terjauh. Butuh waktu hampir 45 menit untuk mencapainya. Hari itu Asikin harus mengantar Pairin (44), Kepala SD Sukasari, terlebih dulu ke Kampung Nagrak, Desa Sukasari, sebelum menjemput lima siswa di titik penjemputan pertama kemudian sembilan siswa lain di titik kedua.

”Situasi angin dan ombak di perjalanan sulit diprediksi, maka waktu antar jemput kadang lebih lama dan siswa tidak tepattiba di sekolah pukul 07.00. Prinsipnya, biar telat asal selamat,” ujar pegawai honorer yang bekerja sejak tahun 2004 itu.

Tanggungjawab Asikin terhadap keselamatan penumpangnya jauh lebih besar ketimbang honornya yang hanya Rp 224.000 per bulan. Oleh karena itu, dia terkadang harus berbagi penumpang dengan Tiar Budiman (32), pengemudi perahu milik SMA 1 Sukasari yang juga mengantar jemput siswa, karena melebihi kapasitas penumpang.

Infrastruktur

Musim hujan dan angin kencang, biasanya terjadi bulan Juni-September, menjadi momen menegangkan bagi Asikin dan Tiar. Sebab perahu kayu sepanjang 9 meter dan lebar 1 meter berkapasitas 15 penumpang harus membawa 20-30 penumpang di tengah terpaan angin dan gelombang.

Dalam situasi seperti itu, tak sedikit siswa yang memilih membolos karena mengkhawatirkan keselamatannya. Endah Puspita (16), siswi asal Gunung Buleud, misalnya, mengaku pernah membolos hingga enam hari dalam sebulan. Sebagian siswa memberanikan diri untuk tetap berangkat ke sekolah karena tidak ingin tertinggal pelajaran.

Buruknya kondisi jalan memaksa siswa dan warga di seberang Waduk Jatiluhur tetap memilih perahu sebagai alat transportasi utama. Menurut Kusnadi, meski hanya berjarak sekitar lima kilometer, waktu tempuh dari rumah ke sekolah melalui jalur darat bisa memakan waktu 45 menit lebih. Dalam kondisi jalan becek akibat guyuran hujan, waktu tempuh bisa molor lebih dari 1 jam.

Jalan rusak yang didominasi batu dan tanah menyulitkan kendaraan bermotor melintas di atasnya. Kondisi itu pula yang membuat Sukiman, Kepala SMP 1 Sukasari, memilih menginap di sekolah ketimbang pulang pergi ke rumahnya di daerah Bunder, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

”Perjalanan darat dengan sepeda motor bisa 1-1,5 jam meski jaraknya hanya sekitar 15 kilometer. Ketimbang capai meladeni jalan yang rusak dan waktu habis di jalan, saya memilih menginap di sini. Sesekali pulang melalui jalur air,” kata Sukiman.

Hermanto dan beberapa guru sekolah itu memilih pulang pergi dengan sepeda motor meski beberapa kali terjatuh di jalan rusak. Namun, saat hujan deras turun dan kondisi perairan waduk bergejolak, mereka takluk juga dan memilih menginap di sekolah.

SMP 1 Sukasari dan SMA 1 Sukasari, keduanya berada di Desa Kertamanah, menjadi satu-satunya SMP dan SMA di Kecamatan Sukasari. Hingga 46 tahun lebih sejak proyek Waduk Ir H Djuanda dibangun, baru dua dari lima desa di kecamatan di seberang waduk itu yang terhubung dan dapat diakses melalui jalur darat, yakni Desa Kutamanah dan Kertamanah.

Tiga desa lainnya, Ciririp, Sukasari, dan Parungbanteng, meski memiliki akses darat, hingga kini lebih sering diakses melalui jalur air karena ada beberapa jembatan yang belum terhubung. Selain pelajar, pedagang dan petani yang akan berbelanja atau menjual hasil panennya, juga memanfaatkan jasa perahu penyeberangan.

Harga barang

Dampak keterisolasian itu tampak jelas di harga barang-barang kebutuhan di Sukasari. Hermanto menyebutkan, harga semen yang mencapai Rp 50.000 per zak meski di pusat Purwakarta yang berjarak 20 kilometer Rp 40.000 per zak. Pasir yang di kota Rp 300.000 per mobil (empat meter kubik), di Sukasari harganya Rp 500.000.

Sebaliknya, harga hasil bumi Sukasari tertekan akibat mahalnya ongkos transportasi. Bambu yang banyak dihasilkan di kebun-kebun warga Sukasari hanya laku Rp 2.000 per batang, meski harga jual di kota mencapai Rp 5.000-Rp 7.000 per batang. Nasib yang sama dialami komoditas pisang, padi, dan jagung.

Kondisi itu pula yang turut menghambat pembangunan dua ruang kelas SMA 1 Sukasari. Menurut Retno Fadillah (32), salah satu guru di sekolah itu, anggaran sebesar Rp 140 juta dari pemerintah habis sebelum bangunan selesai. ”Kami mendapat jatah anggaran yang sama dengan sekolah di kota, padahal kebutuhan dana pembangunan di sini jauh lebih besar karena kendala mahalnya ongkos transportasi,” ujarnya.

Kendala itu pula yang menghambat pembangunan laboratorium seluas 150 meter persegi milik SMP 1 Sukasari. Pembangunan sempat terhenti karena kebutuhan anggaran lebih besar dari perkiraan, antara lain karena harga material yang lebih mahal. ”Akhirnya selesai setelah ada tambahan Rp 30 juta dari pemerintah daerah,” tambah Hermanto.

Pemerintah setempat memang telah memperbaiki sebagian jalan menuju beberapa desa di Sukasari, tetapi kini jalan sudah rusak lagi meski belum genap berumur dua tahun. Pemerintah juga menjangkau rumah-rumah yang sebelumnya belum teraliri listrik. Namun, melihat sejumlah kenyataan itu, warga Sukasari rupanya masih tertatih.(Mukhamad Kurniawan/Cornelius Helmy)

 
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.