KOMPAS.com Cetak ePaper Bola Entertainment Games Tekno Otomotif Female Health Properti Forum Kompasiana Images Mobile KompasKarier PasangIklan GramediaShop Urban Serpong

Sponsored By:

EKSPEDISI CITARUM
Puluhan Ton Limbah Mengalir ke Citarum
Sandro Gatra | Latief | Minggu, 24 April 2011 | 12:09 WIB
|
Share:
RODERICK ADRIAN MOZES/KOMPAS IMAGES
Limbah campuran, antara limbah pabrik tekstil dan rumah tangga mengalir ke Sungai Citarum di wilayah Majalaya, Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/3/2011).

BANDUNG, KOMPAS.com — Oma (43) langsung menarik selang begitu melihat kotoran sapi perahnya menumpuk di kandang yang dibangun di samping rumahnya di Kampung Pajaten, Desa Taruma Jaya, Kecamatan Kertasari, Bandung Selatan, Jawa Barat. Ujung selang itu ditutupnya sebagian agar air mengalir deras.

Tumpukan kotoran di bawah kandang tujuh sapi milik keluarganya itu lalu didorongnya dengan air hingga masuk ke selokan di samping kandang. Air yang tadinya jernih berubah menjadi hijau.

Limbah ternak tersebut kemudian mengalir ke selokan di depan rumah Oma dan bercampur limbah buangan dari peternak sapi perah lain di kawasan itu. Setelah bergabung, warna air kembali berubah menjadi hijau pekat. Bau tak sedap lantas tercium di sepanjang aliran selokan. Limbah ternak yang mengalir di selokan-selokan di permukiman itu kemudian bermuara ke Sungai Citarum dan menjadi pencemar pertama aliran air bersih yang keluar dari sumber mata air di hulu Citarum, yakni Situ Cisanti.

Sejak dulu hingga kini, limbah ternak masih menjadi masalah serius pencemaran Sungai Citarum. Setidaknya ada 1.500 peternak dengan jumlah sapi mencapai 5.500 ekor di Kecamatan Kertasari. Satu sapi bisa mengeluarkan kotoran 10 kilogram sampai 20 kg per hari. Jika diambil nilai tengah 15 kg per hari, setidaknya ada 82,5 ton kotoran dihasilkan sapi di Kertasari per hari.

Dari puluhan ton limbah itu, hanya sebagian kecil yang diolah untuk menghasilkan gas dengan sistem biogas. Di Kampung Pajaten, hanya ada satu biogas yang dikelola Aceng (60), salah satu peternak, yang masih beroperasi. Sementara itu, delapan biogas lainya telah rusak karena hanya dibuat dari bahan plastik. Adapun biogas bantuan pemerintah di samping rumah Aceng dibuat permanen berbahan semen.

"Warga di sini malas masukin kotoran ke biogas, langsung saja disiram. Padahal, biogas ini bisa buat 10 keluarga. Sekarang cuma saya saja yang pakai," ucap Aceng kepada Tim Ekspedisi Sungai Citarum pertengahan Maret 2011.

Camat Kertasari Asep Ruswadi mengatakan, saat ini tinggal empat biogas yang masih bertahan di empat desa.

"Yang lain enggak berfungsi. Dibuatkan sampai jadi, terus kalau ada kerusakan warga bingung membetulkannya. Pemahaman masyarakat kurang tentang biogas," kata Asep.

Seperti diketahui, aliran Sungai Citarum telah tercemar mulai dari hulunya, yaitu sejak dimanfaatkan oleh sebagian warga Jabar. Seperti pada pembangunan tiga waduk, yakni Waduk Saguling di Kabupaten Bandung, Waduk Cirata di perbatasan Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta, serta Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta, yang dipenuhi keramba jaring apung.

Di hilir Citarum, air digunakan untuk mengairi sawah di delapan kabupaten kota. Air Citarum juga merupakan bahan baku air minum untuk memenuhi 80 persen kebutuhan air minum warga Jakarta.

 
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.