KOMPAS.com Cetak ePaper Bola Entertainment Games Tekno Otomotif Female Health Properti Forum Kompasiana Images Mobile KompasKarier PasangIklan GramediaShop Urban Serpong

Sponsored By:

Kebutuhan Air
Pasokan Air dari Citarum Menipis
Sandro Gatra | Nasru Alam Aziz | Selasa, 29 Maret 2011 | 21:42 WIB
|
Share:

PURWAKARTA, KOMPAS.com - Rendahnya curah dan intensitas hujan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sejak Januari 2011 hingga akhir Maret 2011 mengancam pasokan air untuk irigasi maupun air minum saat musim kemarau yang diprediksi mulai terjadi Juni.

Kepala Pengelola Data Sumber Daya Air PJT II, Sutisna Pikrasaleh mengemukakan, cadangan air sampai saat ini baru 57 persen atau sekitar 1.336,30 juta meter kubik dari rencana sebesar 2.319,38 juta meter kubik. Ia memprediksi cadangan air tak akan sampai 100 persen hingga Mei.

"Terkacaukan tahun 2010, tidak ada kemarau. Aliran air Citarum dua kali lipat dari rata-rata. Sekarang kita kumpulkan air dari Januari sampai Mei tapi sampai akhir Maret baru terealisasi 57 persen. Musim hujan tapi airnya sedikit," tutur Sutisna, Selasa (29/3/2011) di Purwakarta.

Jika cadangan air tak sesuai dengan rencana, menurut Sutisna, pihaknya akan mengurangi pasokan air untuk irigasi. Biasanya, Waduk Ir H Djuanda membagi 90 persen air untuk irigasi dan 10 persen untuk air minum.

"Kalau begini terus, kita coba kurangi sekian puluh persen air ke pertanian. Kalau 80 persen saya kira tidak ada masalah, tidak akan mengganggu pertanian. Diharapkan ada kebersamaan para petani, jangan rebutan air," katanya.

Waduk Ir H Djuanda mengairi sekitar 240.000 ribu hektare persawahan di utara Jawa Barat yang menjadi lumbung padi nasional, yakni Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu. PT PLN telah menjatuhkan hujan buatan, 14 Februari hingga 16 Maret 2011, untuk menambah pasokan air.

 
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.