Lampion-lampion Penyemarak Takbiran

Seruan takbir memang belum waktunya. Namun, para perajin lampion, yang banyak menerangi aktivitas takbiran, sudah bermunculan. Mereka menyiapkan stok sebanyak mungkin. Sekali setahun, nyala terang lampion adalah berkah para perajin untuk merayakan Lebaran.

Istiyo (36), salah satunya. Perajin lampion di Dusun Bogoran, Desa Trirenggo, Bantul, itu sudah mulai membuat lampion sejak awal Ramadhan. Kini, total penjualan sudah 400 buah. Jumlah yang lumayan baginya.

"Dari awal puasa saya sudah mulai bikin supaya punya stok banyak. Semuanya saya kerjakan sendiri," kata dia. Ada banyak jenis lampion kreasi Istiyo, seperti kereta, stroberi, kapal, bebek, dan pesawat.

Ia memanfaatkan gabus sebagai bahan baku utama. Lampion-lampion itu dijual Rp 20.000-Rp 100.000 per buah. Sebagai penerang, ia memakai lampu kelap-kelip.

Sifat gabus yang mudah patah membuat proses produksi lampion relatif sulit. Bila tak cermat, hasilnya kasar, apalagi untuk motif ukir-ukiran.

"Tidak setiap orang bisa membuat lampion, makanya saya juga kesulitan menambah tenaga. Akibatnya, produksi tidak sebanding dengan jumlah permintaan yang masuk," katanya.

Lampion gabus adalah lampion generasi kedua. Awalnya perajin membuat lampion dari kertas minyak. Sebagai penerang, mereka menggunakan lilin.

Menggunakan kertas minyak, variasi warna dan bentuknya menjadi terbatas. Hanya ada warga putih, hijau, kuning, dan merah. Jika memakai gabus, akan bisa digunakan warna apa pun sesuka hati. Penggunaan lilin pada kertas minyak juga berbahaya dan kurang praktis.

Basiran, perajin lampion lainnya mengatakan, meski model lampion sudah dari gabus, lampion kertas minyak juga masih diminati. Proses pembuatan diawali membuat rangka berbahan bambu wulung sesuai bentuk lampion yang diinginkannya.

Lalu, pada bagian tengah lampion diberi lubang dari bahan paralon sebagai tempat lilin. Setelah terbentuk, barulah ditempeli kertas minyak yang mampu ditembus cahaya lilin.
 
Bisnis menggiurkan

Usaha lampion cukup menggiurkan. Istiyo mengaku, dengan modal sekitar Rp 100.000, ia bisa memperoleh omzet sekitar Rp 1 juta.

"Memang sangat menguntungkan. Sayangnya baru bisa menjadi usaha musiman. Selain Lebaran, permintaan lampion sangat kecil. Bahkan, tidak ada," katanya. Oleh karena itu, saat Ramadhan seperti sekarang para pembuat lampion berlomba-lomba membuat sebanyak-banyaknya.

Di Yogyakarta, lampion selalu dinanti saat takbiran. Tanpa lampion, takbiran terasa kurang meriah. Kurang semarak.

Dulu, sebelum lampion marak, umat Islam memanfaatkan obor/oncor bambu sebagai penerang untuk takbiran keliling kampung. Obor dibuat dari sepotong bambu sepanjang 50 sentimeter, lalu di dalamnya diisi minyak tanah. Bagian atas bambu ditutup kain untuk penyulut api.

Kini, obor tak lagi populer. Selain modelnya yang kurang menarik, mahalnya harga minyak tanah juga menjadi faktor penyebab utama. "Bayangkan dengan harga minyak tanah Rp 8.500 per liter, dana yang dibutuhkan akan lebih banyak kalau takbirannya semalam suntuk," kata Rusmidi, warga Desa Trirenggo, Bantul.

Tradisi takbiran dimaksudkan menyemarakkan datangnya Hari Raya Idul Fitri. Tradisi itu telah berlangsung lama, hanya formatnya saja yang mengikuti perkembangan zaman. Umumnya, ciri khas takbiran adalah pawai, entah dengan jalan kaki atau menggunakan kendaraan.

Dulu, pawai takbiran dilakukan hanya berjalan kaki keliling kampung. Paling banter naik kendaraan ditarik hewan, seperti dokar, pedati, atau gerobak. Kini, semuanya serbapraktis. Dan, lampion menjadi bagian tradisi tahunan itu. (ENY PRIHTIYANI)

Editor :

PROFILBINTANG

Taufiq, Maestro Lini Tengah Tim Garuda

Sepanjang pergelaran Piala AFF 2012, berdiri juga sosok pemain bertubuh mungil dan lincah dengan ketenangan luar biasa di lapangan tengah. Taufiq.